“No one is born fully-formed: it is through self-experience in the world that we become what we are.” 

― Paulo Freire

Merayakan hari ulang tahun tidak pernah benar-benar menjadi suatu kebiasaan di keluarga saya. Sejauh yang saya ingat, keluarga besar saya dan Maghleb lebih banyak menjadikan momen ‘ulang tahun’ sebagai sarana kumpul-kumpul keluarga; saling bercerita, mendengar kabar, dan saling mendoakan. Hari ini saya genap berusia 35thn. Saya ingin ‘merayakan’ hari ini dengan merefleksikan perjalanan hidup selama 10 tahun terakhir. 10 tahun lalu saya baru saja menikah 1 tahun. Refleksi perjalanan hidup saya sudah pasti merefleksikan apa saja yang telah kami alami berdua sampai saat ini. Sebagai muslim, sudah jadi kewajiban kita meyakini bahwa atas berkat rahmat Allah kita diberikan berbagai nikmat, kesempatan dan semua kebaikan dalam hidup. Dalam posisi kita sebagai hamba Allah, tentu ada aspek ibadah, ada doa, ada keikhlasan, ujian dan semua hal yang dialami sebagai bahan ujian – yang membuat diri kita semakin kokoh.

Diluar aspek diatas, sepanjang perjalanan hidup saya, saya memiliki senjata rahasia, yang karenanya saya memperoleh kekuatan untuk bisa menjalani hidup.

Rahasia yang pertama adalah istri saya. Maleb ibarat cermin buat saya, apa-apa yang baik dari saya merupakan refleksi kebaikan yang saya dapatkan dari Maleb. Bukan berarti saya dan maleb punya sifat yang sama. Namun semua hal yang baik dari saya sudah pasti merupakan hal yang diridhoinya. Maleb itu adalah coach, mentor, sekaligus sparring partner saya. Relasi yang kami bangun diawal adalah kesetaraan bahwa kami berdua sama-sama memiliki nilai strategis satu sama lain. Apakah kami menyadarinya dari awal? Secara persepsi iya, tapi kenyataannya proses kalibrasi, penyelarasan dan mencari titik kesetimbangan merupakan proses yang selalu menjadi – alias tidak akan pernah selesai.

Menurut saya, 3 kekuatan saya yang sepenuhnya saya curi ilmunya dari maleb adalah (1) kekuatan dalam menghadapi orang lain. Buat yang belum tau, maleb adalah orang yang paling solider yang pernah saya temuin di muka bumi ini. Saya seringkali kehabisan energi menghadapi orang lain, sementara maleb gak pernah habis-habisnya memikirkan apalagi yang bisa dilakukan maleb untuk membantu orang lain. (2) kekuatan untuk memiliki bejana perasaan. Buat saya yang minim referensi mengeskpresikan afeksi, maleb adalah pelengkap yang sangat sempurna. Ini berguna banget ketika anak pertama kami, Tara lahir ke dunia. Alhamdulillah ketika Gari menyusul di dunia, referensinya udh lumayan banyak, hehe. (3) Yang ketiga ini, salah satu yang paling penting menurut saya. Maleb adalah orang paling suportif dalam up & down perjalanan kita. Selalu bisa jadi ‘rem’ klo saya terlalu nge-gas. Memaafkan ketika saya berbuat salah ataupun mengambil keputusan yang sembrono. Bahkan maju ke depan kalau memang dirasa perlu untuk ikut memegang tali kendali. Kekuatan ketiga ini menurut saya lahir krn saya merasakan Maleb mempercayai sepenuhnya bahwa semua keputusan yang saya ambil, kita akan jalani berdua apapun konsekuensinya.

Baru beberapa hari ini Maleb bilang, “salah satu kekuatan Uda yang jarang diekspose adalah Uda berani.” Saya bales, “berani dan nekat emang beda tipis, hehe”. Sebenarnya yang terjadi adalah gak mungkin saya berani kalau saya gak yakin Maleb berada di belakang saya. Ini senyata-nya kuat karena bersama.

Rahasia kedua adalah orang tua kami. Kenapa orang tua bukan urutan pertama? Karena saya dan maleb punya insight kalau sudah menikah maka semua tanggungjawab dan keputusan merupakan hasil kolaborasi suami dan istri. Orang tua suami telah memberikan kepercayaan kepada anaknya bahwa dia siap untuk memimpin seorang anak perempuan. Orang tua perempuan telah memberikan semua pembekalan dan menghantarkan sang anak ke gerbang pernikahan. Ibaratnya, orang tua tanpa diragukan selalu ada di belakang anak-anaknya. Di keluarga saya, bapaklah yang meletakan fondasi agama di keluarga kami. Bapak meninggal ketika saya bersekolah kelas 2 SMA. Sejak itu pula, Emak (panggilan kesayangan keluarga kami) bersama kakak-kakak saya terus berjuang mendorong saya untuk terus maju dan bertahan hidup. Emak saya punya 5 amalan unggulan: sholat tahajud, puasa daud, sholat dhuha, sedekah dengan apa yang dimiliki, dan kuat dalam menjaga silaturahim. Sudah lama saya punya kebiasaan minta doa tambahan dari emak ketika mengalami kesulitan pekerjaan atau kesulitan hidup lainnya.

Saya juga bersyukur karena memiliki Mama dan Papa yang dari awal berinteraksi sudah jadi teladan lahir batin. Selain bahwa tabungan amal jariyahnya gede banget karena melahirkan FIM , saya merasa sebenar-benar orang tua saya. Dari awal menikah, Papa dan Mama tidak pernah memberi kesan relasi ‘mantu’ dengan ‘mertua’. Buat saya Mama adalah sosok gigih idealis yang jadi acuan moral compas di keluarga besar kita, sementara Papa buat saya selayaknya kamus hidup. Kamus hidup yang mengajarkan kepada saya bagaimana selayaknya sikap hidup seorang suami yang harus jadi pejuang keluarga. Inspirasi menjadi pengusaha pertama kali datang dari papa, termasuk pelajaran penting dalam hidup kalo mudik jalan darat ke Padang akan bisa memperkuat ikatan dalam keluarga. Almarhum Bapak, Emak, Mama dan Papa adalah kesempatan tabungan amal baik , sekaligus sumber doa-doa yang menguatkan kami menjalani hidup. Tulisan ini semoga jadi saksi yang akan memudahkan hisab orang tua kami untuk jalan menuju syurgamu, Aamiin.

Rahasia terakhir adalah doa dan perbuatan baik teman yang bertemu di jalan hidup. Perjalanan saya menjalani hidup sampai sekarang adalah cerita nyata banyak orang baik yang mau mengorbankan harta, tenaga, ilmu pengetahuan, untuk mendidik saya. Saya banyak dibantu oleh teman-teman di SMA dulu, baik junior maupun senior saya. Ketika dikampus, pertemuan dan pengalaman berinteraksi dengan para senior membekali saya agar apapun yang terjadi dalam hidup, janganlah lupa bahwa manusia hidup tidak hanya untuk makan. Senior ini yang memberikan banyak kesempatan, sekalipun saya banyak gagal. Lewat dari kampus, mulai banyak mentor-mentor hidup yang saya temui, sedikit demi sedikit memberikan arah dan petunjuk jalan mana yang harusnya saya lewati – memotong learning cost, bersedia membagikan kisah pedih mereka dan bahkan tidak segan memberikan akses sumber daya untuk belajar. Orang-orang ini juga bukan selalu ‘orang besar’. Sebagian orang ini adalah mereka yang selalu membagikan ceritanya kepada saya, mempercayai saya dan sudi ikut mendoakan jalan hidup ataupun memberikan semangat pada setiap interaksi yang terjadi.

Saya hari ini adalah akumulasi kekuatan harapan, niat baik dan keikhlasan orang-orang ini yang selalu hadir setiap waktu. Tanpa kita minta, tanpa pamrih, selalu mendoakan kita. Dalam riuh dan dalam tenang, mereka sesungguhnya yang paling layak mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya atas hal baik yang saya lakukan.
Saya berdoa, agar setiap perbuatan baik yang dilakukan, mereka jugalah yang mendapatkan balasan kebaikan.

Terima kasih ya Allah atas semua nikmat yang telah Engkau berikan. Terima kasih telah mengirimkan orang-orang terbaik dengan citarasa kampung akhirat. Terima kasih atas kesempatan, juga ujian yang diberikan.
Saya memohon untuk bisa terus dikuatkan untuk semua hal yang ada di depan.