Betapa banyak teman-teman saya sedari kecil dipersiapkan menjadi seorang breadwinner. Breadwinner, secara istilah merupakan terminologi yang digunakan untuk menggambarkan peran seseorang yang krusial untuk keluarganya. Peran yang dimaksud merujuk pada kemampuan seseorang menjadi penopang nafkah keluarga. Dalam persepsi yang lebih parenting related, breadwinner merujuk pada seorang (anak) yang (diharapkan) memiliki kemampuan unggul. Mereka yang diharapkan bisa menjadi andalan keluarga tentulah diharapkan memiliki karakter super – jika tidak berlebihan kita menyebutnya.

Berbagai macam perlombaan diikuti, berpindah dari satu lomba mata pelajaran ke lomba mata pelajaran lain. Untuk perkara nilai, jika sang anak mendapat nilai ujian sekolah dibawah 9, bisa dikatakan itu seperti aib yang tak terperi. Tidak hanya itu, jika tiap hari ada berbagai les yang bisa diikuti kenapa tidak? Mulai dari les mata pelajaran, les musik, les balet, dan sebagainya. Buat orang tua, sangat penting ‘menyiapkan’ anak multitalent. Semua atribut unggul sangat hati-hati dijaga agar tidak ada yang meleset sedikitpun. Waktu terus berjalan. Pilihan kehidupan pun tak luput dari sasaran: pilihan sekolah, kampus pilihan, hingga calon pasangan merupakan hal mutlak yang harus melewati kurasi orang tua. Ah, apa iya zaman sekarang masih ada?
you tell me.

siapa diantara kita yang dahulu selalu ranking 1 dan sekarang seperti menjadi orang gagal? Orang tua kita begitu bangga bercerita rentetan prestasi kita kepada sesama orang tua murid, tetangga dan kerabat yang berkunjung. Sekarang, begitu sulit kita lulus kuliah, pekerjaan idaman tak kunjung datang, hingga rasanya semua yang kita ‘pegang’ tidak ada yang berhasil, sampai-sampai kita malu bertemu dengan orang tua kita.

Tidak ada yang salah dengan menjadi prestatif dan membangun kepercayaan diri yang tinggi dengan menjadi bisa dalam banyak hal. Atribut kemenangan, keunggulan yang kita dapatkan sebenarnya adalah sebuah pelengkap. Sejak dulu karena terbiasa ‘menang’, kita menjadi gagap ketika ketika kita ‘kalah’. Kita tidak siap mendapati jika dunia ini sesekali tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan. Tidak ada orang tua yang sudah menyiapkan apa-apa yang kita butuhkan. Tidak ada sahabat dekat yang bisa diajak curhat berlama-lama seperti saat kuliah dulu. Memiliki bos yang tidak ‘suportif’ menjadi alasan untuk segera berpindah dan mencari pekerjaan lain yang ‘ideal’. Barangkali gagal kita itu hanya sekali, tapi seolah dunia dan isinya menertawakan kita. Dari satu gagal, bersambung dengan kegagalan lainnya. Disaat itulah kita merasa diri kita tidak berharga. Apa iya?

Dalam salah satu pelatihan coaching yang saya ikuti, kami diajarkan prinsip yang harus kami jaga sebagai seorang coach ketika bertemu coachee. Salah satunya memiliki keyakinan bahwa setiap orang itu resourceful. Bahwa setiap orang yang membawa masalah untuk diceritakan, percayalah mereka sudah memiliki semua yang mereka butuhkan untuk menyelesaikannya. Kita seorang coach hanya membantu mendampingi mereka menemukan jawaban atas pertanyaan mereka. Bayangkan, apa yang terjadi kalau setiap orang tua, para guru, bos di tempat kerja, dosen penguji, meyakini hal ini dan mendorong agar anak-anaknya mempercayai diri mereka sendiri? Semua orang akan menahan diri dari label/stigma kekurangan: kurang pintar, kurang terampil, dan semua jenis kurang.

Daripada melihat sisi yang kurang, kenapa tidak melihat dari apa yang sudah baik dari yang kita lakukan?
Kemudian kita tanyakan kembali, apalagi yang bisa ditingkatkan?
Mari kita lihat sekeliling kita, hal apa yang dimiliki saat ini, yang dapat meningkatkan usaha kita?
Apa kekuatan diri kita yang selama ini membuat kita terus bertahan ditengah banyaknya ujian kehidupan?

Kalau saat ini kita merasa hidup kita kacau, maka ingatlah, nafas yang masih kita miliki adalah pertanda baik bahwa kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Cek kembali sumber daya yang kita miliki saat ini. Apakah benar, kita orang yang tidak punya apa-apa?

“Stop acting so small. You are the universe in ecstatic motion.” 

― Rumi