Mengapa dari sekian banyak kesempatan untuk mengubah kebiasan yang buruk, seseorang tidak pernah benar-benar berubah? Padahal banyak waktu yang dimiliki, melimpahnya dukungan yang tersedia, hingga sekian banyak alasan untuk berubah, tidak secara otomatis mendorong perubahan perilaku yang dimaksud.

Banyak Ramadan terlewati, beberapa momen kritis hidup juga telah dialami, namun niat perubahan timbul tenggelam. Beberapa bertahan lebih dari sebulan, sebagian lain bertahan hingga kelas pelatihan usai. Apakah kita termasuk di antaranya?

Tidak hanya dalam konteks personal beberapa hal sepertinya kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Frustasi dengan rekan kerja yang tidak suportif, kesal dengan pimpinan yang tidak sensitif padahal berkali-kali dikomplain anak buah, atau heran dengan perilaku sahabat sendiri yang memelihara kebiasaan buruk meminjam barang tapi tak pernah dikembalikan.

Biar gak kelamaan stres karena kasus diatas, coba kita tengok apa yang diajain oleh Om Prochaska dan Clemente lewat konsep Transtheoretical model. Model ini cukup baik menjelaskan mengapa banyak kegagalan orang dalam mengubah perilakunya.

Image taken from Wikipedia.org

Saya belajar konsep ini 8 tahun yang lalu, saat banyak ngerjain modul pelatihan. Intinya konsep ini menjelaskan, kenapa perubahan yang dialami seseorang bisa berbeda-beda proses dan juga tahapannya. Keinginan seseorang untuk memiliki perilaku yang baik (good behavior) akan menemui tantangan yang berbeda-beda, tergantung dari keadaan orang tersebut.

Prochaska menjelaskan kalau seseorang melalui rangkaian tahapan dalam proses perubahan perilaku. Dalam setiap tahapannya, setiap orang tidaklah sama, tergantung dengan kekuatan dan kondisinya masing-masing. Setiap tahapan berisi proses, cara yang bervariasi untuk dapat mengurangi resistansi, mempercepat proses hingga mencegah kembalinya perilaku yang sudah ditinggalkan. Dengan mengerti konsep ini, kita bisa menyadari kegagalan yang terjadi jika seseorang atau kita sendiri melakukan intervensi atau tindakan yang tidak tepat sesuai dengan fase perubahan seseorang.

Image taken from Pexels/andreea-ch-371539

Berikut beberapa hal yang bisa kita pelajari mengenai tahap perubahan Prochaska:

  • Precontemplation (tidak siap berubah)

Ini adalah tahapan pertama dalam melihat perjalanan perubahan seseorang. Seseorang dalam tahap ini biasanya gak ngeh kenapa perlu berubah. Ini menjelaskan mengapa ada beberapa orang yang begitu susahnya untuk diberikan masukan. Hal ini terjadi karena orang ini terlalu lama berada keadaan nyaman – tidak pernah diinformasikan apa konsekuensi dari perilaku buruk mereka selama ini. Hal ini mungkin juga karena otoritas yang dimiliki membuat orang tidak berani memberikan kenyataan yang jujur.

Pada beberapa kasus, karena seringnya mengalami kegagalan dalam proses perubahan, mengakibatkan orang tersebut tidak termotivasi dan tidak memiliki kemampuan berubah. Orang-orang yang resisten dengan perubahan ini sering dianggap tidak siap berubah, walau pada kenyatannya, perlu pendekatan yang tidak biasa yang menyesuaikan karakteristik kasus per kasus.

  • Contemplation (bersiap berubah)

Saat ini seseorang sudah memiliki intensi untuk berubah, karena mereka lebih sadar dengan manfaat apa yang akan mereka dapatkan jika mereka berubah. Hal ini juga berarti mereka memahami betul konsekuensi dari perubahannya, misalnya akan menghilangkan kesenangan yang selama ini mereka dapatkan. Untuk itu, di tahap ini, seseorang bisa memperlihatkan kecenderungan untuk menunda-nunda perubahan. Keragu-raguan mereka akan diperparah jika selama fase ini, interaksi mereka lebih banyak dipenuhi stimulus untuk melemahkan semangat perubahan.

Jangan berharap banyak bahwa orang di level ini bisa langsung menunjukkan hasil, karena pekerjaan rumah pertama adalah membuat mereka lebih yakin dengan manfaat perubahan untuk hidup mereka di masa depan.

Baca Juga: Selalu Ada yang Pertama

  • Preparation (siap berubah)

Tahap persiapan berarti seseorang telah memiliki rencana aksi dengan apa yang akan mereka lakukan ke depan. Kalau secara waktu, mereka bisa ditantang untuk segera bergerak dalam satu bulan ke depan. Sumber daya apa yang harus disiapkan, dukungan lingkungan sudah terbayang dengan jelas kebutuhannya. Biasanya mereka telah berusaha mencoba-coba 1 atau 2 kegiatan yang mengajak mereka keluar dari kebiasan buruk, walau sebagian besar masih merupakan aksi spontan, misalnya karena dorongan significant person atau pun peer pressure.

  • Action

Seseorang pada tahap ini telah berhasil mengubah perilakunya selama beberapa waktu terakhir, dan perlu usaha ekstra keras untuk terus bisa konsisten. Seseorang di tahap ini perlu diperkuat komitmennya dan kadangkala melawan keinginan untuk kembali kepada kebiasaan lama. Semua tindakan orang ini bisa terlihat dan diobservasi, intinya gak selesai di bab niat.

Pada fase ini, penting untuk mengidentifikasi beberapa alternatif kegiatan atau rencana aksi sebagai variasi agar tidak cepat bosan, dan sebagai insentif mereka atas capaian yang sudah berjalan hingga sejauh ini.

  • Maintenance

Pada tahap ini, seseorang telah secara konsisten mengubah perilakunya dan memiliki kebiasaan baru yang terlihat dengan jelas. Walaupun masih terus dibayangi dengan kemungkinan mereka relapse, tapi di tahap ini seseorang sudah lebih percaya diri dengan diri mereka, bahwa mereka akan bisa terus melanjutkan hidup mereka dengan perubahan saat ini.

Baca Juga: Jalan Terus

Beberapa data menunjukkan bahwa seseorang yang berhasil mencapai tahap ini akan bisa bertahan perubahannya hingga 5 tahun ke depan. Salah satu yang mungkin harus tetap dihindari adalah lingkungan yang stressfull yang membuat seseorang terpancing kepada perilaku yang sudah mereka hindari. Untuk itu, sangat direkomendasikan agar seseorang bisa terus mendapatkan dukungan dari orang yang mereka percayai dan terus terkoneksi dengan berbagai kegiatan yang memperkuat perilaku positif mereka. Seperti orang yang berhasil konsisten untuk berolahraga lari, maka dianjurkan untuk bisa berada dalam komunitas pelari yang secara rutin menjaga kebiasaan tersebut.

Sebenarnya konsep Prochaska ini perlu kita pahami sebelum kita menginginkan perubahan yang terjadi pada level makro (lebih besar), misalnya di lingkungan kerja, organisasi hingga masyarakat. Karena kegagalan kita dalam mendorong proses perubahan individual, bisa memberikan beban lebih pada niat baik kita mendorong perubahan yang lebih fundamental pada ekosistem yang lebih besar.

Jadi pertanyannya, kalau kita sekarang ingin berangkat menuju titik perubahan yang kita inginkan, di fase manakah diri kita sekarang berdiri? 🙂