Kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas. Sebagian lain menambahkan elemen kerja ikhlas dalam mantra yang biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, kata ‘kerja ikhlas’ mewakili harapan bahwa sekuat-kuatnya manusia berusaha, selalu ada intervensi Tuhan dalam menggenapi harap akan hasil yang diterima. Dalam sebuah dialog sore hari, salah seorang mentor pernah berkata seperti ini; “Saya paling tidak suka istilah kerja cerdas, kerja ikhlas dan semacamnya. Saya yang terperangah lantas bertanya kembali, “gimana Pak maksudnya?”. “Jadi gini Van, kalau kita fokus pada kerja cerdas, kita cenderung mencari jalan pintas pengen cepet selesai. Celakanya, hal ini membuat kita tidak pernah benar-benar mengeluarkan semua jerih payah. Kita cenderung apologetic pada keadaan, pada hambatan. Banyak orang senang dengan peribahasa; kalau satu pintu tertutup, carilah pintu lain yang terbuka. Kenapa sih kita gak mikir untuk berusaha keras buka pintu itu?. Kalau perlu kita dobrak pintunya!” Menurutnya sah-sah saja orang menggaungkan filosofi tersebut, tapi jangan sampai fokus pada ‘kerja cerdas’ mengarahkan pada mentalitas kerja yang cepat menyerah.

Dalam fragmen lain, saya pernah ditanya seorang senior; “mana lebih dahulu, kerja apa doa?”. Kita lupa bahwa doa yang dilantunkan juga merupakan bentuk kerja. Refleksi saya, ada dua tipe manusia yang berada di dua titik ekstrem. Ekstrem yang pertama, adalah manusia yang berpikir bahwa kerja keras akan sepenuhnya menentukan hasil usaha. Manusia yang seperti ini cenderung menakar hidup seperti menang dan kalah saja. Hidup seakan rangkaian kompetisi, dimana akumulasi aset hidup yang dimiliki harus dimaksimalkan untuk keuntungan pribadi. Reward adalah buah kerja keras yang fair untuk dinikmati dalam hidup. Masalahnya dimana? Pada manusia tipe ini, ketika hasil yang diharapkan tidak terjadi padahal semua daya dan upaya telah dikerahkan, maka ketidakpuasan, ketidakadilan, menjadi narasi berulang yang seringkali memakan habis kesadaran diri dan kekokohan mental. Di satu sisi yang lain, sering ada manusia yang selalu berpikir bahwa doa saja ‘menyelesaikan’ masalah. Jika kerja tidak optimal, atau kita sengaja melalaikan, maka dengan berdoa, yakin Tuhan akan memberikan pertolongan ‘membereskan’ kekacauan yang timbul. Don’t get me wrong. Keyakinan bahwa Tuhan akan menolong tentu itu hak asasi setiap orang. Dalam Islam, banyak sekali anjuran untuk kita memperbanyak doa. Doa adalah senjata orang mukmin. Banyak kemudahan hidup yang saya rasakan, dan seluruhnya saya yakini ada kontribusi doa dari orang tua saya. Jadi bagaimana seharusnya kita menjalani hidup diantara pusaran kerja dan doa ini? Tunggu sebentar, barangkali cerita teman saya ini bisa jadi inspirasi.

Berita viralnya sempat bersliweran di beberapa grup WA. Ivto – begitu saya dan teman-teman SMA memanggilnya – menjadi populer (lagi) karena penunjukannya menjadi duta luar negeri sebuah prefektur di Jepang. Ketika saya dan teman-teman mengucapkan selamat kepadanya, jawabannya simpel namun mengena; “Terima kasih mas bro, berkat doa dan kerja keras bertahun-tahun. Semoga bermanfaat buat banyak orang ya!”. Saya tahu betul perjuangan beliau sejak Ivto menjadi Ketua Sains & Perpustakaan di Smandel. Mengelola organisasi yang isinya variasi thinker dan doer dengan semua ide yang banyak sangat menantang dirinya yang dahulu cenderung kalem dan pasif. Selepas sekolah, Ivto berjuang merantau di Jepang. Sempat sebentar mampir di UGM, Ivto melabuhkan studinya di APU Ritsumeikan, hingga ia menamatkan studi masternya disana. di Jepanglah saya sangat yakin Ivto berubah menjadi pribadi yang kuat dan kokoh. Kata orang, merantau bisa mengubah orang, Ivto adalah contoh yang nyata. Sejak di Jepang, Ivto begitu komitmen membangun jejaring profesionalnya. Misi kuatnya dalam mewujudkan public private partnership untuk kehidupan yang lebih baik: renewable energy, entrepreneur, hingga social membawa level dirinya naik lebih cepat ke level strategis. Konsistensinya menembus berbagai jaringan, membuatnya dipercaya oleh mitra bisnisnya di jepang, ‘KADIN Jepang’, hingga sempat menjadi salah satu orang kepercayaan RG, seorang pengusaha kawakan yang sempat menjadi menteri di republik ini. Selebihnya? teman-teman bisa lihat beritanya sekarang. Menurut saya, Ivto adalah sosok teladan yang mengajarkan kepada saya bahwa kerja keras saja tidak cukup. Baktinya yang luar biasa kepada orang tua, konsistensinya membangun jaringan (baca: silaturahim), dan kekokohan tekadnya untuk memberikan yang terbaik untuk Indonesia tidak pernah membuatnya kehilangan harapan untuk Indonesia. Kita butuh banyak Ivto-ivto yang lain; bukan hanya kerja keras, namun juga percaya doa menjadi enabler hasil baik yang diraih. Ivto masih terus berjalan dan berjuang, mari bersama kita kerja keras dan juga berdoa dengan deras. Selamat berjuang!

IA