Setiap manusia diberikan jatah waktu yang sama setiap harinya untuk berusaha. Untuk belajar, bekerja, berbisnis, mengajar, menolong orang lain, dan semua yang dikerjakan mulai dari seseorang bangun tidur, hingga tidur kembali, itulah durasi waktu yang ‘dihabiskan’ seseorang. Berbicara mengenai waktu merupakan bahasan yang tidak pernah habis, karena pemaknaan mengenai waktu ternyata sangat subjektif. Ketika kita pergi ke satu tempat yang baru, rasanya perjalanan yang kita tempuh begitu lama waktu tempuhnya, dan sebaliknya ketika kita kembali pulang dengan rute yang sama, rasanya waktu tempuhnya lebih singkat. Dalam ritme harian bekerja, kita sering merasa selalu kurang waktu, hingga membelah diri ataupun meminta waktu tambahan seakan-akan menjadi satu-satunya opsi agar pekerjaan kita selesai.

Einstein pernah bilang, waktu itu relatif, konsep mengenai masa lalu, masa kini dan masa datang merupakan ilusi. Apa yang kita persepsikan sebagai masa kini, bisa jadi menjadi masa lalu oleh seseorang dengan sudut pandang yang berbeda.

“Time is a created thing. To say ‘I don’t have time,’ is like saying, ‘I don’t want to.” 

― Lao Tzu

Pada saat saya menulis tulisan ini, waktu terus berjalan. Apa yang terjadi di ‘masa depan’ tulisan ini, merupakan rangkaian peristiwa detik tiap detik yang dijahit oleh satuan usaha. Maka yang paling bisa kita ‘kuasai’ adalah waktu ‘saat ini’. Detik yang terlewat tidak akan kembali, namun masa depan merupakan proses yang akan terus menjadi. Banyak diantara kita memilih untuk diam dan berhenti, merasa upaya kita sia-sia, padahal yang dikeluhkan tidak bisa diubah, dan yang akan datang belum terjadi. Betapa banyak alasan untuk tidak melakukan sesuatu adalah karena alasan waktu yang kurang – atau tidak ada waktu, padahal yang terjadi adalah karena kita tidak mau. Andai kita tidak pernah benar-benar sadar bahwa kenyataannya kita memiliki waktu, jangan-jangan kitalah yang menjalani kehidupan ini dengan tidak sadar. Barangkali saking cepatnya ritme hidup kita, kita tidak lagi merasa.

Dengan semua fenomena belajar dan bekerja dari rumah, maka salah satu hal yang pasti ‘berkelimpahan’ adalah waktu yang tersedia. Waktu yang dibutuhkan untuk mobilitas harian, menembus kemacetan, terkonversi menjadi waktu tambahan. Bagi kita yang suka mengeluh dengan distraksi tempat kerja, ataupun lingkungan kerja yang kurang suportif, saat ini kita diberikan keleluasaan untuk mengatur ‘meja kerja’ kita sendiri. Bagi yang sudah lama tidak meng-upgrade diri, di hadapan kita, tiap hari, tersuguh ratusan kelas pengembangan diri yang bisa kita ambil di sela waktu break bekerja, atau di waktu free time – ‘kemewahan’ yang dua bulan lalu rasanya kita tidak pernah bayangkan akan didapatkan. Untuk para orang tua, ini adalah saat dimana kita bisa memberikan waktu lebih untuk bermain, belajar bersama, berdialog dan mengajarkan kebijaksanaan hidup yang kita peroleh selama masa hidup kita. Buku-buku baru yang masih tersimpan rapih hasil berburu di pameran buku menanti untuk dibaca pemiliknya. Daftar aktivitas ini akan semakin panjang seiring dengan meningkatnya kesadaran kita akan waktu yang kita miliki.

Perubahan yang kita alami, memaksa diri kita untuk bisa beradaptasi, melakukan penyesuaian dan penyelarasan. Beberapa hal barangkali harus kita tambah, beberapa harus kita kurangi. Sebagian kita barangkali harus keras berhemat, sedangkan yang lain diharapkan menambah berbagi. Perlahan kita semua bergerak untuk mencari titik keseimbangan yang baru: ketrampilan diri baru, bertambahnya buku yang dibaca, hubungan anak-orang tua yang lebih hangat, kesehatan mental yang lebih stabil, frekuensi ibadah yang meningkat, lebih banyak berbagi dan banyak lainnya yang membuat rasa syukur kita semakin hikmat.

Jangan sampai ketika semua penyesuaian ini berakhir, kita menemui realita yang menyakitkan bahwa tidak ada nilai tambah yang berhasil kita dapatkan dengan semua keberlimpahan waktu ini.
Kita tidak kurang waktu, hanya kurang disiplin.