Hingga saat ini, kalau saya bertemu kenalan baru, dan ditanya ‘orang mana?’, saya selalu bingung. Umumnya kita menjawabnya dengan menyebutkan domisili tempat tinggal dari kecil, atau menjawab asal daerah orang tua kita berasal. Sedari kecil saya lahir dan tinggal di Jakarta. Lepas SD, saya pindah sekolah ke Cipanas, Puncak, hanya untuk sekolah setahun disana, kemudian kembali ke Jakarta. Almarhum Bapak saya asli Pekalongan, tepatnya di Kuripan Kidul (atau Lor ya?). Secara fisik ayah saya memiliki perawakan orang Arab, walaupun sedikit. Saya sering bercanda sama Maleb kalau saya ada turunan Arab, hehe (agak menyimpang tema tulisan). Oiya, saya hampir tidak pernah ke Pekalongan waktu kecil. Justru ketika Bapak sudah gak ada, Alhamdulillah keluarga kami berkesempatan ke Pekalongan untuk menjaga tali silaturahim dengan keluarga besar Bapak.

Ibu saya sendiri kelahiran Jatinangor, Jawa Barat. Bisa dikatakan, keluarga inti saya lebih dekat dengan budaya dan cita rasa Sunda. Ibu memiliki keluarga besar yang tersebar di Sumatera, kalau tidak salah di Bengkulu dan Lubuk Linggau. Belakangan, ketika saya telah menikah, saya banyak mendapat cerita Ibu dari Maleb (ini bukti saya agak kurang paham silsilah keluarga), bahwa ada garis keturunan dari kakek/nenek Ibu yang berasal dari Sumatera Barat, di daerah Sumpu, dekat Danau Singkarak. Jadi kalau ditanya saya orang mana, saya selalu bilang, orang campur-campur. Istilah psikologi lintas budaya, saya adalah orang indifferent.

Untuk itu, kalau ditanya mudik, saya memang tidak pernah punya pengalaman mudik dari kecil. Satu-satunya daerah yang sering kami kunjungi adalah Cipanas, selain ada kakak yang tinggal disana, at least Cipanas bisa cukup mewakili ‘kampung halaman’, suasana sejuk, ciri-ciri masyarakat rural masih banyak, dan kultur daerahnya masih kuat.

Awal-awal menikah, obrolan mudik menjadi topik hangat, karena tidak lama dari setelah nikah, masuk ke bulan puasa. Tahun pertama nikah, keluarga (baru) kami tidak kemana-mana. Baru di tahun kedua, rencana mudik semakin serius untuk dipersiapkan. Papa dan Mama berasal dari Padang dan Bukittinggi. Sebelum nikah, Maleb sering cerita pengalaman mudik road trip, dari Jakarta-Padang yang menghabiskan waktu lebih dari 40 jam. Saat pertama kali diajak roadtrip awal nikah, saya gak habis pikir ngapain capek-capek dijalan, padahal sebenarnya kita bisa berhemat ngumpulin uang untuk beli tiket pesawat ke Padang, dan hanya menghabiskan waktu 2,5 jam saja.

Secara logis, menurut saya gak masuk akal. Waktu itu saya juga belum bisa menyetir, sehingga saya langsung membayangkan betapa lamanya waktu akan saya habiskan di mobil. Singkat cerita, pengalaman ‘mudik’ pertama saya ke Padang terjadi juga. Walau sepanjang jalan saya hanya menjadi penumpang, dan yang menyetir adalah Papa mertua, perlu saya akui, ada perasaan ikut bahagia dan haru kalau sudah tiba di kampung halaman.

Begini mungkin perasaan yang dialami orang-orang yang rela berjam-jam macet ataupun ribuan km di jalan, karena selalu merasa ada kebutuhan kembali ke kampung halaman. Ada ketenangan, kebahagiaan dan rasa syukur bahwa sejauh apapun kita pergi, selalu ada alasan kembali ke rumah.

Sejak saat itu, keluarga kami selalu memiliki pola, setiap dua tahun, kami meniatkan diri ke Padang-Bukittinggi, ini juga konsensus bersama yang diambil agar kami selalu mengupayakan berkumpul dengan bergantian keluarga besar. Buat teman-teman yang hendak berkeluarga, saya pikir bagus kalau hal-hal seperti ini bisa dibicarakan lebih awal, sehingga kita bisa ada waktu mengkomunikasikannya kepada keluarga besar kita. Pengalaman mudik untuk anak kami pertama juga menyenangkan. Tara ikut mudik mulai usia dalam kandungan 8 minggu. Setelah itu, Tara sempat ke Bukittinggi karena ada acara FIM 14B disana, dan setelahnya baru di usia 3thn kalau gak salah. Nah, buat teman-teman yang belum pernah merasakan mudik, mungkin beberap hal berikut bisa menjadi alasan untuk bisa merencanakan mudik, atau perjalanan jauh bersama keluarga.

  1. Mudik membuat anak kuat untuk perjalanan jauh. Setelah Tara sudah bisa berkomunikasi dengan lebih baik, dia sering bertanya kepada kami, “kapan kita jalan ke Padang lagi?”. Saya tanya balik ke Tara, “kenapa memang? Tara udh kangen Padang?”. Ia bilang kalau perjalanan ke Padang menyenangkan; mulai dari sensasi naik kapal feri, banyak objek pemandangan selama dijalan, hingga keseruan ketemu saudara dan suasana baru di kampung. Kalau saya perhatikan, Tara termasuk cukup sabar ketika berjalan jauh. Sabar yang dimaksud gak rewel dan mengeluh karena jauhnya medan, ‘gak mabokan’, dan tidak gampang sakit. Yang ada, supirnya yang mungkin tepar setelah perjalanan jauh. Dengan perjalanan jauh, anak dilatih untuk menahan diri agar tidak langsung mendapatkan apa yang dia inginkan (makan, istirahat di penginapan, dll). Ini menurut saya memiliki efek yang positif untuk anak.
  2. Mudik membuat ikatan keluarga semakin kuat dan kompak. Sepanjang perjalanan, kita selalu mencari cara agar tidak ngantuk, mulai dari rebutan playlist lagu, maen berbagai macam kuis SD (yang zaman saya SD dengan Tara sama-sama aja kuisnya), buka jendela teriak-teriak gak jelas, sampe minta dicubit-cubit biar gak ngantuk. Hal ini memaksa semua anggota keluarga saling bekerjasama agar semua tetap merasa nyaman dan aman dalam perjalanan. Oiya, Alhamdulillah salah satu kebiasaan baik yang ditularkan oleh keluarga Maleb adalah kita mengusahakan tetap berpuasa selama dijalan, walaupun kita tahu ada rukhsoh (keringanan untuk berbuka). Saya merasakan kalau berpuasa, kita jadi gak sering-sering berhenti untuk makan. Saat bepergian jauh juga membuat kita rentan untuk berkonflik antara anggota keluarga. Hal ini selain kita menghadapi banyak kejutan seperti salah jalan, melewati jalan yang rusak, mencari pom bensin yang langka, atau mendadak mencari penginapan tapi semuanya penuh. Semua ini jadi stimulus untuk kami saling bisa memahami respon perilaku satu sama lain.
  3. Mudik meningkatkan daya tahan dan konsentrasi. Ini sebenarnya konteksnya untuk saya. Mudik kedua saya Alhamdulillah saya sudah bisa menyetir, saat itu saya tandem dengan Om Iwan (adeknya Mama). Bisa dikatakan sepanjang perjalanan, kami hampir tidak beristirahat khusus, karena ketika saya tidak menyetir, saya ‘harus tidur’ dan digantikan oleh om Iwan, begitu pula sebaiknya. Gak heran, kalau mudik bersama om Iwan, rasanya lebih cepat sampai, hehe. Rutinitas ini beberapa kali saya lakukan, hingga tahun 2019, saya memutuskan untuk menyetir sendiri full PP. Berangkatnya kebetulan ada dua anak FIM yang ikut mudik, jadi saya masih bisa minta tolong gantian jika sudah lelah. Pulangnya yang kemudian saya menyetir dari Bukittinggi, melewati Palembang (mencoba tol baru), hingga sampai ke Cibubur, fiuhh. Saya akui saya orang yang gampang ngantuk, tapi karena dengan pengalaman beberapa kali mudik, lumayan membuat saya bisa menaikkan daya tahan dan konsentrasi saya. Setelahnya, beberapa kali perjalanan Jawa relatif bisa kita lewati dengan lancar.

Tiga hal diatas tentu belum semuanya, banyak sekali insight dan pengalaman yang bisa dibagi juga oleh teman-teman. Yang pasti, selain dimensi keluarga dan budaya, mudik sejatinya menjadi salah satu cara kita untuk mensyukuri apa-apa yang kita dapatkan. Tak jarang ketika di kampung halaman, kita mendapat kesempatan untuk bisa berbagi dengan saudara-saudara yang membutuhkan. Di kampung halaman, kita juga diingatkan untuk terus rendah hati karena sejatinya, capaian ‘sukses’ yang kita rasakan, dibangun diatas fondasi doa dan dukungan dari kakek/nenek, orang tua, sanak saudara yang terus mendoakan keberhasilan kita. Mudah-mudahan Allah memberikan kita kesempatan untuk kembali bersilaturahim dengan saudara-saudara kita di kampung halaman.
Ada yang mau janjian pulang basamo? 🙂