“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

QS. Al-Baqarah: 216

Boleh Jadi Kamu Tidak Menyenangi Sesuatu, Padahal Itu Baik Bagimu
Berikut adalah pembahasan mengenai ayat diatas yang disadur dari Kitab Fawaid, melanjutkan dari serial hikmah yang pernah ditulis pada kesempatan sebelumnya. Salah satu anjuran dalam bulan Ramadan adalah memperbanyak tilawah AlQuran, sekaligus mendorong untuk kita mentadabburi ayat-ayatNya.

Di dalam ayat ini, terkandung hikmah, rahasia dan kemaslahatan bagi seorang hamba. Diantaranya adalah: apabila seorang hamba mengetahui bahwa sesuatu yang dibencinya terkadang justru mendatangkan sesuatu yang dicintai, dan sesuatu yang dicintainya terkaang justru mendatangkan sesuatu yang dibenci; maka ia tidak akan merasa aman dari bahaya pada saat dianugerahi kebahagiaan, dan tidak akan putus asa untuk memperoleh kebahagiaan ketika ditimpa kesulitan. Hamba itu bersikap demikian karena ia tidak mengetahui kesudahan dibalik semua itu. Dan, hanya Allah yang mengetahuinya, sebagaimana Dia mengetahui hal-hal lainnya yang tidak diketahui oleh hambaNya.

Melaksanakan perintahNya
Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada melaksanakan perintah Allah, mesi hal itu terasa berat bagi dirinya. Sebab, buah dari semua pelaksanaan perintah atau kewajiban pasti berupa kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, dan kegembiraan. Kendati jiwa manusia pada dasarnya tidak suka melaksanakan perintah, namun sebenarnya melaksanakan perintah itu merupakan kebaikan baginya dan mengandung perkara yang sangat bermanfaat bagi kehidupannya.

Begitu pula sebaiknya. Tidak ada yang lebih membahayakan seorang hamba daripada melanggar larangan Allah, meski inilah yang disenangi dan disukai hawa nafsunya. Sebab, akibat dari semua pelanggaran adalah kepedihan, kesedihan, keburukan, dan musibah. Sementara akal sehat menuntut kesabaran dalam menghadapi sedikit penderitaan, demi memperoleh kenikmatan yang besar dan kebaikan yang melimpah. Akal pun menganjurkan untuk menjauhi sedikit kenikmatan, demi menghindari penderitaan yang besar dan keburukan yang berkepanjangan.

Sayangnya, pandangan orang yang jahil tidak akan mampu menembus hikmah dibalik peristiwa. Sedangkan pandangan orang yang cerdas selalu bisa menembus hikmah yang tersembunyi di balik peristiwa, sejak pertama kali peristiwa itu terjadi. Karena, sejak awal is sudah bisa mengintip hikmah tersebut dari balik tabir peristiwa, apakah hikmah itu berupa kebaikan atau pun berupa keburukan. Ia melihat bahwa larangan Allah tak ubahnya makanan lezat tapi mengandung racun mematikan. Setiap kali kelezatan makanan itu menggugah seleranya, setiap itu pula keberadaan racun didalamnya mencegahnya untuk memakannya. Di sisi lai, ia memandang perintah Allah bagaikan obat yang pahit, tapi menyehatkan dan dapat menyembuhkan penyakit. Setiap kali rasa tak enak terbayangkan olehnya dan menghalanginya untuk meminum obat tersebut, setiap itu pula harapan kesembuhan menolongnya dengan kuat untuk meminumnya.

Namun hal tersebut membutuhkan ilmu yang bisa membuat seseorang mengetahui hikmah dibalik peristiwa. Sekain itu, juga dibutuhkan kesabaran yang menguatkan jiwanya untuk menempuh jalan yang sulit dan terjal, dmei menggapai cita-cita di akhir perjalanan. Apabila sesorang tidak mempunyai keyakinan dan kesabaran, niscaya ia tidak akan mencapai tujuan itu. Tapi jika keyakinan dan kesabarannya kuat, mudah baginya menanggung segala kesulitan dalam meraih kebaikan dan kesenangan abadi.

Menyerahkan semua urusan kepada Allah
Diantara hikmah yang terkandung didalam ayat ini ialah jika seorang hamba menginginkan kesudahan yang baik dalam setiap urusannya, maka ia dituntut untuk menyerahkan segala urusannua kepada Allah Yang Maha Mengetahui akibat segala urusan, serta ridho atas pilihan dan ketentuan Allah baginya.

Hikmah lainnya yang dikandunng ayat ini ialah; seorang hamba tidak berhak mengajukan usul kepada Rabbnya, tidak berhak mendikte Rabbnya agar memenuhi pilihannya, dan tidak berhak memohon agar diberikan sesuatu yang dia sendiri tidak mengetahui bagaimana kesudahannya. Sebab, boleh jadi sesuatu yang dimintanya justru membahayakan, dan membinasakannya, akrena ia tidak mengetahui akibat atau dampak ngatifnya. Atas dasar itu, manusia sama sekali tidak memiliki hak untuk memilih sesuatu atas Rabbnya. Akan tetapi hendaknya ia memohon pilihan yang terbaik dariNya dan meminta agar hatinya ridha atas pilihan tersbeut. Sebab, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dirinya selain daripada itu.

Hikmah lainnya ialah; apabila seorang hamba telah menyerahkan urusannya kepada Rabbnya dan ridha atas pilihan Allah untuk dirinya, niscaya Allah akan membantunya menerima pilihan itu dengan menganugrahkan ketegaran, kebulatan tekad, dan kesabaran hati. Lalu, menghindarkannya dari segala macam bencana yang mungkin terjadi apabila seorang hamba berpegang pada pilihannya sendiri. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya dampak positif dari pilihanNya bagi dirinya, yang tidak ajan dicapai walaupun separuhnya jika ia menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Mengosongkan hati dari segala kesibukan
Sikap pasrah kepada Allah dapat menenangkan keletihan pikiran seseorag ketika dihadapkan pada beberapa pilihan. Di samping itu, sikap tersebut juga dapat menjauhkan hatinya dari spekulasi terhadap risiko yang akan diterima, yang tentunya membuat psikologinya naik turun, tidak stabil. Padahal, ia tetap tidak dapat keluar dari garis takdirnya.

Jika seseorang telah ridha dengan pilihan dan takdir Allah, maka ketika trakdir tersebut menimpanya, ia berada dalam keadaan terpuji, penuh rasa syukur dan mendapatkan kasih sayang Allah. Namun jika ia tidak ridha dengan pilihan dan takdir Allah, maka ketika takdir tersebut menimpanya, ia berada dalam keadan tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang Allah. Sebab takdir yang diterimanya itu disertai dengan pilihan dirinya sendiri.

Ketika seorang hamba sudah benar-benar menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan ridha atas ketentuanNya, maka kasih sayang dan kelembutan Allah akan membantunya dalam menjalani garis takdirnya. Dengan demikian ia berasa diantara kasih sayang dan kelembutan Allah. Kasih sayang Allah inilah yang akan melindungi dirinya dari segala hal yang ditakutkan dan dikhawatirkan, dan kelembutanNya inilah yang meringankan bebannya dalan menghadapi garis takdirnya.

Tatkala sebuah takdir (buruk) menimpa diri seorang hamba, maka perlu diketahui bahwa salah satu penyebanya adalah usahanya untuk menghindari takdir tersebut. Karena itu, tidak ada yang lebih bermanfaat baginya selain menerima dan menyerahkan diri ke hadapan takdir, tak ubahnya bangkai yang dilemparkan ke hadapan binatang buas. Karena, biasanya bianatang buas tidak suka memakan bangkai binatang.