Live, so you do not have to look back and say: ‘God, how I have wasted my life’. Elisabeth Kubler-Ross, M.D.(1926-2004).

Kita bersyukur bahwa kita dilahirkan di bumi Indonesia. Segala jenis tempaan dalam bentuk masalah, musibah, kekurangan, rasanya pernah kita rasakan. Banyak yang bilang bahwa karakter seseorang akan kelihatan ketika orang tersebut menghadapi masa-masa sulit. Respon menghadapi ketidaknyamanan, kekurangan ataupun kehilangan bisa beraneka ragam, namun secara naluriah awalnya kita semua mungkin akan mengalami penyangkalan. Kita merasa apa yang kita terima ini tidak adil; menyalahkan orang lain yang menyebabkan kerugian yang sekarang kita hadapi. Sebenarnya ini hal yang wajar dan sangat manusiawi. Ketika ada force majeur, seperti Pandemi saat ini, barulah kita merasa bahwa superioritas manusia bisa langsung luluh karena perasaan tidak berdaya menerima takdir saat ini. Keinginan untuk tetap bisa resilien/tangguh, menjadi topik utama yang sering menjadi perbincangan. Banyak sekali referensi dan rujukan mengenai apa itu resiliensi, salah satu diantaranya adalah sebagai berikut,

Resilience is our ability to bounce back from adversity. It’s what allows us to recover from change or hardship, whether in the workplace or life in general

Simpelnya, resiliensi/ketangguhan adalah kemampuan seseorang untuk bangkit dari kesulitan. Kemampuan ini membuat kita mampu bertahan/pulih dari perubahan, masa-masa sulit, ditempat kerja ataupun dalam konteks umumnya. Kadar resiliensi setiap orang berbeda, hal ini sangat tergantung dari latar belakang seseorang, sejauh mana dalam momen-momen hidupnya orang tersebut diuji, bagaimana daya dukung lingkungan terdekat, hingga bagaimana seseorang menilai tentang hidup dan kehidupan, akan sangat mempengaruhi ketangguhan seseorang. Satu hal yang pasti, hampir semua rujukan mengatakan bahwa resiliensi tidak akan muncul, jika tidak diawali dengan menerima perubahan. Menerima sumber daya yang hilang, menerima kekuatan kita yang melemah, atau menerima orang-orang terdekat yang kita sayangi tidak berada ditengah-tengah kita. Lantas, bagaimana kita bisa ‘melatih’ diri kita agar ketika tiba masa-masa sulit, ataupun saat ini, kita bisa lebih menyiapkan diri?
Salah satu caranya adalah dengan memiliki pemahaman bagaimana umumnya kita merespon situasi sulit.

Kubler-Ross Model
Pada tahun 1969, Elisabeth Kubler-Ross memperkenalkan model yang membantu menjelaskan bagaimana seseorang bereaksi dengan perubahan. Framework Kubles-Ross sebenarnya dikembangkan dari hasil observasi pada kerabat pasien yang mengalami fase terminal ilness. Hal ini dijelaskan dalam bukunya, “On Death And Dying.”. Model ini menjelaskan bahwa terdapat beberapa fase yang menjelaskan apa yang dirasakan orang ketika berhadapan dengan perubahan. Satu hal yang pasti, model ini mengatakan bahwa semua tahapan ini adalah reaksi yang normal. Tahapan yang diperlihatkan manusia merupakan mekanisme pertahanan yang dibutuhkan agar pada akhirnya kita bisa mengelola perubahan. Tahapan ini tidak terjadi linear. Artinya bukan berarti setiap tahapan harus dilalui satu demi satu, namun yang terjadi adalah kita bisa memperlihatkan beberapa fase pada waktu yang berbeda, dan bahkan kita bisa kembali kepada tahapan yang sebelumnya sudah kita lewati. Apa saja tahapannya?

Shock or Denial
Kata-kata seperti, “gak percaya”, “kenapa ini bisa terjadi kepada saya”, “duh kok kejadian lagi”, merupakan hal yang umum didengar pada fase ini. Umumnya fase denial hanya sementara, dan ini memberikan kita waktu untuk menyerap informasi perubahan sebelum berpindah ke fase lain. Kita yang mengalami musibah misalnya, tidak ingin mempercayai bahwa hal ini benar-benar terjadi.

Anger
Ketika kita menyadari bahwa perubahan ini nyata dan memiliki pengaruh pada diri kita, umumnya seseorang yang tadinya hanya menyangkal (denial) akan berubah menjadi marah. Kita segera akan menyalahkan seseorang atau sesuatu yang membuat semua ini terjadi. Kalau kita ingat saat-saat Pandemi semakin meluas dan terjadi di Indonesia, banyak diantara kita yang sangat marah kepada pemerintah karena merasa ini semua terjadi karena respon pemerintah yang lambat. Kemarahan seseorang di tahap ini bisa menyasar kepada berbagai faktor. Sebagian meyalahkan Tuhan atas ‘takdir buruk’ yang dialami, sebagian lain menyalahkan keadaan ekonomi, atau bahkan pemimpin kita yang tidak sigap menangani masalah. Kalau boleh jujur, pada fase ini, kita relatif lebih sensitid pada kerabat atau anggota keluarga kita. Setiap kesalahan kecil mereka akan mudah kita lihat dan itu semakin membuat kita marah dengan keadaan.

Bargaining
Banyak diantara kita ketika ada musibah berandai-andai dengan waktu: seandainya kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang tua kita lebih lama, atau berharap kita berhasil menyelesaikan satu rencana yang sudah disiapkan lama, namun apa ada daya gagal berantakan karena ada bencana. Kita mulai melakukan bargaining, bernegosiasi dengan takdir agar apa yang terjadi bisa di-undo, dan berharap semua akan baik-baik saja. Pada masa-masa sulit, kita memulai (kembali) percakapan dengan Tuhan, meminta dengan sangat waktu tambahan, ataupun wishful thinking lainnya. Dalam konteks lain seperti pekerjaan, ada yang mencoba menghindar dari keputusan ‘skors/pinalti’ dengan bekerja sangat keras, lembur hingga berlebihan, semata-semata untuk bisa mneghindari keputusan tersebut.

Depression
Saat kita menyadari bahwa usaha bargaining kita sia-sia, kita semakin sadar akan musibah/kehilangan tersebut. Keadaan ini akan membawa seseorang kepada kesedihan mendalam, merasa jatuh dan tidak berenergi sama sekali. “Buat apa kita hidup”, “kenapa kita harus berusaha”, “lebih baik mati’, adalah ujaran-ujaran yang sering muncul di tahapan ini. Keadaan depresi ini sangat mudah terlihat pada lingkungan eksternal, seperti lingkungan pekerjaan. Perubahan sikap ditempat kerja, perasaan demotivasi dan ketidakyakinan dengan masa depan. Pada beberapa kasus, seseorang dengan keadaan seperti ini mulai hilang dari peredaran, menghindari kontak sosial. Tak jarang hal ini juga mempengaruhi keadaan fisik/biologis orang tersebut.

Acceptance
Semakin kita menyadari bahwa perubahan tidak bisa dilawan, dan tidak akan hilang, maka seseorang akan pindah kepada tahap penerimaan diri. Memahami sepenuhnya keadaan yang tidak menyenangkan ini sesuatu fakta bersama yang ada dalam hidup kita. Di tahap ini, untuk pertama kalinya, kita mulai melihat adanya berbagi pilihan kehidupan didepan mata kita. “Walaupun saya tidak tahu apa yang ada di depan sana, namun tetap lebih baik bagi saya untuk terus berjalan dan menyusuri kehidupan ini”. Disaat ini, kalau seseorang mendapatkan stimulus yang tepat, ini adalah awal mula fase kreatif dan mencari berbagai kesempatan baru yang ada didepan mata. Beberapa evidence yang ada adalah seseorang memiliki makna baru tentang hidup, mengenal lebih dalam tentang siapa dirinya. Hal-hal yang berasal dari perjalanan kedukaan mereka dan memunculkan insight baru tentang diri mereka.

Menjaga Harapan
Dalam model yang disampaikan oleh Kubler-Ross, ada satu variabel yang berperan penting, dimanapun kita berada dalam fase ini, yaitu pentingnya harapan. Harapan yang dimaksud adalah kepercayaan bahwa selalu ada akhir yang positif dari semua perubahan. Hal ini pula akan membawa kita kepada pemaknaan baru yang membuat hidup lebih berharga. Sesuatu terjadi bukan tanpa alasan. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun, selalu ada kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Semoga teman-teman yang sekarang berada dalam masa-masa sulit selalu ingat bahwa perjalanan panjang hidup ini selalu punya masa naik dan turun, dan itu keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Selamat menerima ketentuan yang datang dengan selapang-selapangnya.