Dunia ini begitu luas. Beberapa diantara kita karena usahanya telah bepergian keliling dunia; melalui jalur beasiswa, jalur ibadah, ataupun jalur jalan-jalan biasa. Pada era borderless society saat ini, dimana batas-batas wilayah, batas negara seakan-akan hanya hadir dalam urusan administratif perizinan bepergian. Nyatanya? Kita dengan mudahnya bepergian – jalan darat, terbang, berlayar – ke tempat-tempat yang dahulu hanya kita bisa bayangkan melalui cerita-cerita ensiklopedia. Luasnya dunia juga memberikan pesan bahwa Allah telah menghamparkan dunia ini sebagai kesempatan yang dimiliki manusia untuk mecari sebanyak-banyak karunia Allah SWT.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

(QS. Al-Jumu’ah:10)

Kalau kita melihat tradisi budaya bangsa Indonesia, beberapa suku bangsa di Indonesia terang-terangan mendorong masyarakatnya untuk pergi merantau. Kita tahu orang Bugis yang nenek moyangnya bangsa pelaut, bisa kita temukan di penjuru Indonesia. Pada beberapa daerah Kalimantan dan Sulawesi cukup banyak juga suku bangsa Jawa menjadi pendatang dan berhasil meneruskan hidup dengan taraf hidup yang baik. Tentu saja tidak afdol kalau tidak menyertakan orang minang ketika berbicara tentang merantau. Salah satu anekdot yang sering diutarakan adalah hampir selalu kita temukan rumah makan padang di setiap penjuru Indonesia. Kita sama-sama sepakat bahwa merantau ataupun bepergian ke tempat-tempat baru memiliki dampak positif untuk hidup kita. Begitu pentingnya bepergian, bahkan-bahkan kita bisa menemukan setidaknya 9 ayat dalam AlQuran yang menganjurkan kita untuk bertebaran di bumi Allah.

Dalam tulisan saya sebelumnya tentang mudik, saya sendiri merasakan betul manfaat bepergian atau melakukan perjalanan jauh bersama keluarga. Hingga saat ini, barangkali masih banyak diantara kita yang belum tergerak hatinya untuk mengeskplorasi tempat-tempat baru. Sesungguhnya, yang berharga dari bepergian adalah kesempatan yang kita dapatkan agar pikiran kita menjadi lebih terbuka. Mengapa ini bisa terjadi? Karena kita akan mendapatkan banyak wawasan pengetahuan baru, relasi baru, yang dengannya mungkin sedikit banyak akan mempengaruhi sudut pandang. Sampai dengan usia saya di 35tahun, saya baru berkesempatan pergi ke Korea dan Belanda, diluar negara tetangga Singapura dan Malaysia. Saya ingat betul, ketika tahun 2009 saya mengikuti course sebulan di Incheon dan Seoul, saya waktu itu sangat terpesona dengan semua gerbang tol yang sudah sepenuhnya menggunakan teknologi sensor (RFID?), jadi mobil tidak perlu berhenti untuk membayar (waktu itu agak norak, hehe). Hingga 11 tahun berjalan, kita masih melihat bahkan Indonesia belum sepenuhnya bisa menerapkan kebijakan ini di gerbang-gerbang tol utama.

Ketika saya bertemu dengan banyak role model, teman-teman saya yang punya relasi internasional yang bagus, merekalah yang banyak membuka pikiran saya. Saya akhirnya bisa memahami semangat menggebu beberapa rekan saya, seperti Ikono dan Ivannanto . Mereka adalah sosok-sosok yang selalu menekankan pentingnya kita memiliki network global. Mereka rela melakukan apapun yang berada dalam keahlian mereka, mengagas berbagai macam eksperimen project kemajuan untuk tanah air. Mereka telah melihat dengan jelas, apa saja ketertinggalan kita dengan negara-negara diluar sana.

Dengan bepergian, kita yang mungkin sudah merasa puas dengan capaian diri kita dan juga kemajuan Indonesia, jadi berpikir dua kali ketika mendapat exposure saat belajar keluar. Ketika saya mengikuti course di Maastricth tahun lalu, saya berkesempatan ketemu pasangan inspiratif, Desti dan Kang Iging, Keduanya dari Maastricht mengelola organisasi NGO Ecadin, yang fokus pada isu energi. Dulu barangkali kita tidak pernah membayangkan sebuah inisiatif bisa dijalankan secara global, oleh keluarga kecil yang sebenarnya bukan pengangguran, alias sibuk banget. Mereka telah berhasil menyatukan banyak potensi anak bangsa dari sudut kota yang terletak di perbatasan. Mari sejenak berpikir, apa benang merah yang dapat kita pelajari dari sosok-sosok seperti Ivannanto, Ikono, Desti, Kang Iging?

Selalu terhubung dan terus bergerak
Mertua saya selalu bilang, “selalu ada yang pertama untuk semua hal.”. Saya menduga, ketika awal seseorang merantau kuliah atau bekerja, motif mereka tidak jauh-jauh untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri; aktualisasi diri, membawa nama baik keluarga, mendapat pekerjaan bagus, menjadi peneliti internasional, dll. Seiring perjalanan waktu, dengan semakin banyaknya terpapar dengan kemajuan dan kedigdayaan tempat dimana mereka kuliah/bekerja, akan muncul semacam keresahan dalam diri. “Apa ya yang bisa kita lakukan untuk bangsa kita?”, “Indonesia butuh banget nih teknologi kaya gini.”, “kita harus sebanyak-banyaknya mengajak anak muda merantau dan mengambil ilmu pengetahuan untuk bisa diterapkan di negara kita.” Pertanyaan, keresahan inilah yang terakumulasi menjadi dan akhirnya bermuara menjadi beberapa inisiatif yang kita ketahui sendiri.

Tentu kita tidak bisa naif, dari banyaknya idealisme yang dibawa pulang ke Indonesia, banyak juga yang akhirnya teronggok berhenti di sudut birokrasi. Pada fragmen lain, tidak jarang kita mendengar cerita ketidakberdayaananak muda cemerlang ini menghadapi budaya inovasi yang rendah. Sebagian lain misalnya, memilih untuk tetap melanjutkan kenyamanan hidup dan berharap Indonesia akan baik-baik saja. Semua kenyataan ini ada dan nyata berada ditengah-tengah kita, dan itu biasa.

Saya termasuk orang yang memilih untuk melihat dari sisi positif. Saya percaya bahwa akan selalu ada anak bangsa yang berusaha untuk terus terhubung dan bergerak. Saat ini, kita harus mendorong sebanyak-banyaknya loose network, dalam bidang apapun, yang memungkinkan terakselerasinya kemajuan di Indonesia. Akan tiba saatnya nanti pertemuan antara masing-masing network ini, dan ketika mereka berkolaborasi, tentu dampaknya akan sangat besar.

Ini pula yang mendasari tahun lalu, melalui backbone Maxima, saya memulai inisiatif Pemimpin.id bersama bang Salman Subakat, Aji Suradika, dan beberapa kawan lainnya. Kita percaya salah satu enabler kemajuan bangsa, kalau kita bersungguh-sungguh memperbaiki kualitas kepemimpinan Indonesia. Belakangan inisiatif ini terus berkembang mendorong terbentuknya konsorsium Deepspace, dan berdirinya hub komunitas di Rumah Wijaya. Saat ini pun, saya aktif belajar lebih dalam mengenai pendidikan di Indonesia melalui Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan dan Jaringan Semua Murid Semua Guru. Kita menyadari bahwa pekerjaan rumah bangsa ini terlalu banyak untuk diselesaikan sendiri. Tidak pernah ada rumusan baku, dengan cara apa, ataupun bersama siapa perubahan bisa terjadi. Kita hanya bisa berusaha dan terus meningkatkan peluang keberhasilan untuk mendorong perubahan.