Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 28 Juli, Jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG) menyelenggarakan kegiatan EduLeadTalk untuk kali pertama. Program yang dihadiri lebih dari 200 peserta mengangkat tema “Good Leader, Good Teacher”.

Saya ingat betul, inspirasi program ini lahir dari diskusi pada saat Pesta Pendidikan 2021, saat saya menjadi host untuk sesi bersama Pak Mardi Wu (CEO Nutrifood) dan Bang Salman Subakat (CEO PAragon Technology & Innovation). Pak Mardi dan Bang Salman melontarkan ide bagaimana kalau SMSG mengadakan forum diskusi rutin yang mempertemukan profesional dan eksekutif perusahaan dengan para pendidik dan juga pegiat komunitas pendidikan. Beliau percaya jika interaksi terjalin d iantara keduanya, akan terdapat proses saling belajar; praktik baik perusahaan bisa menjadi inspirasi pendidik, sebaliknya, kebijaksanaan dan kekayaan pengalaman guru, kepala sekolah, dan pegiat komunitas akan memberikan perspektif baru mengenai pendidikan Indonesia.

Dalam diskusi terpisah, beberapa kali Bang Salman selalu menyampaikan narasi pentingnya melakukan edukasi dan penguatan Educational Leadership – kepemimpinan dalam dunia pendidikan, pada ekosistem pendidikan Indonesia. Walaupun konsep educational leadership secara umum merujuk pada pengorganisasian kepemimpinan formal di sekolah, namun konsep ini sebenarnya bisa diekspansi untuk melihat potensi kepemimpinan dalam lingkup yang lebih luas.

Kepemimpinan dalam dunia pendidikan tidak hanya berkenaan dengan pihak yang secara formal menempati jabatan sebagai kepala sekolah, pengawas sekolah atau para regulator kebijakan institusi pendidikan. Bahasan ini mencakup setiap pemangku kepentingan yang menggunakan potensi diri dan karya mereka untuk bergerak bersama para guru, orang tua atau bahkan dengan pembuat kebijakan pendidikan untuk berkolaborasi merancang sistem pendidikan dalam sebuah ekosistem pendidikan.

Saya percaya, semakin banyak pihak yang aktif berkontribusi untuk dalam ekosistem pendidikan, harapannya akan semakin menyeluruh perspektif yang dimiliki karena adanya transfer pengetahuan dan juga kebijaksanaan di antara sesama pemangku kepentingan. Hal ini akan berdampak pada perumusan kebijakan yang lebih baik, sinergi, dan kolaborasi yang efektif untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan ini tentu saja tidak akan tercapai jika kita mengabaikan aspek kepemimpinan yang dapat meningkatkan daya ungkit setiap aktor pendidikan.

Tentu saja, aktor pertama dan paling utama yang menjadi sorotan adalah guru. Guru merupakan garda terdepan dalam reformasi dunia pendidikan, karena mereka yang secara teknis menyusun dan menerapkan desain pembelajaran, (Harris & Jones, 2013). Dengan keterampilan kepemimpinan yang dimiliki, para guru akan memiliki kesempatan lebih baik untuk melakukan refleksi terhadap tugas mengajar mereka, terutama refleksi tujuan pendidikan dalam mengelola desain instruksi pembelajaran. Tanpa kemampuan ini, upaya perbaikan sistem pendidikan dalam skala besar akan sulit untuk ditempuh.

Baca Juga: Belajar dari Abdi Negara

Kepemimpinan dalam Tindakan

Gambar: Pexels/@rodnae-prod

Kita mengetahui sosok Dewi Sartika yang mendirikan Sekolah Keutamaan Istri karena prihatin dengan akses pendidikan untuk perempuan saat itu. Founding fathers kita, Soekarno, merupakan guru sejarah di sekolah Ksatrian Douwes Dekker. Barack Obama juga merupakan pemimpin publik yang juga seorang pendidik. Ia mengajar selama 12 tahun mengajar di University of Chicago Law School. Tidak ketinggalan L.B. Johnson yang mengajar public speaking. Bahkan seorang Jenderal Soedirman, pahlawan nasional yang masyhur dengan taktik perang gerilyanya, dulunya juga merupakan kepala sekolah di SD Muhammadiyah.

Berbagai inisiatif diatas tidak akan lahir tanpa ditopang kepemimpinan yang luar biasa. Fakta sejarah ini merefleksikan bahwa pendidikan dan kepemimpinan merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

Kita bisa lihat juga berbagai temuan dari lembaga riset internasional mengenai pentingnya kepemimpinan dalam pendidikan. Center for Teaching Quality (CTQ) menerbitkan serangkaian modul yang berfokus untuk meneliti pentingnya keterampilan kepemimpinan bagi pendidik; “Deeper Leadership for Educators, Deeper Learning for Every Student.”

Semakin dalam kepemimpinan pendidik, semakin bermakna pembelajaran para murid. New Research Centre juga menerbitkan hasil riset mereka pada tahun 2017 yang mengemukakan bahwa keterampilan kepemimpinan yang diterapkan baik dalam desain instruksi pembelajaran maupun leadership skill yang dimiliki oleh para pengajar berimbas secara langsung pada tingginya prestasi/pencapaian para murid di institusi mereka. Yang paling menarik, baik jurnal hasil penelitian dari CTQ maupun NRC, keduanya merupakan riset kolaborasi antara jejaring pemerhati pendidikan, asosiasi guru dan para pelaku industri dalam komunitas mereka. Barangkali kita bisa lebih banyak mendorong riset kolaborasi untuk konteks Indonesia?

Baca Juga: Menjadi Jembatan

Perkuat Kepemimpinan Melalui Kerja Barengan

Gambar: Pexels/Kaboompics

Kita tidak bisa pungkiri, masalah akses belajar, kesempatan berjejaring dan juga kekuatan sumber daya mempengaruhi kualitas dan juga pemahaman pendidikan dalam menghadapi tantangan pendidikan. EduLeadTalk hanyalah satu dari sekian banyak inisiatif dari Jaringan SMSG dalam menjembatani kebutuhan untuk saling berbagi dan belajar di antara pendidik dan juga aktor korporasi. Program ini masih terus diiterasi untuk menemukan format yang bisa memberikan dampak terbesar pada penguatan kepemimpinan di dunia pendidikan.

Saya memanggil setiap eksekutif perusahaan, profesional dan para ahli untuk bisa memberdayakan jaringan SMSG untuk memperkuat ekosistem pendidikan Indonesia. Pengalaman kepemimpinan dan praktik baik manajerial perusahaan merupakan sumber belajar yang penting. Sebaliknya, perusahaan dapat belajar ketulusan, kebijaksanaan dan komitmen dari dunia pendidikan untuk bisa diterapkan dalam lingkup perusahaan.

Dengan memperkuat integrasi, kita wujudkan berbagai kolaborasi untuk melahirkan berbagai inovasi kemajuan pendidikan.

Salam Kerja Barengan,
@ivanahda